Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 02 Januari 2012

TATA URUTAN UPACARA PENGANTIN JAWA


TATA URUTAN UPACARA PENGANTIN ADAT SOLO PUTRI

https://skydrive.live.com/redir.aspx?cid=3970975d327e6d28&resid=3970975D327E6D28!125&parid=3970975D327E6D28!106
PROSESI PASANG TARUB
Pasang tarub digunakan sebagai tanda resmi bahwa akan ada hajatan mantu dirumah yang bersangkutan. Didahului dengan pemasangan Bleketepe, yaitu anyaman dari daun kelapa (janur) yang merupakan simbolis sebagai “peneduh”, yang dulunya digunakan untuk para tamu yang tidak bisa ditampung keseluruhan didalam rumah yang punya hajat yang sekarang ini diganti dengan tenda yang berwarna warni.

PASANG TUWUHAN
Tuwuhan biasanya dipasang di pintu masuk dan biasanya berupa tumbuh-tumbuhan yang masing-masing mempunyai makna.
Tuwuhan terdiri dari :
A. Pohon pisang raja yang buahnya sudah masak
Diharapkan pasangan yang akan menikah telah mempunyai pemikiran dewasa dan matang. Sedangkan pisang raja mempunyai makna, pengharapan agar pasangan yang akan dinikahkan kelak mempunyai kemakmuran, kemuliaan dan kehormatan seperti raja.
B. Tebu wulung
Tebu wulung berwarna merah tua sebagai sumber manis. Hal ini melambangkan kehidupan yang serba enak. Sedangkan makna wulung bagi orang Jawa berarti sepuh atau tua. Setelah memasuki jenjang perkawinan, diharapkan kedua mempelai mempunyai jiwa sepuh yang selalu bertindak dengan cara bijaksana.
C. Cengkir Gadhing
Merupakan symbol dari kandungan tempat si jabang bayi atau lambang keturunan.
D. Daun randu dari pari sewuli
Randu melambangkan sandang, sedangkan pari melambangkan pangan. Sehingga hal itu bermakna agar kedua mempelai selalu tercukupi sandang dan pangannya.
E. Godhong apa-apa (daun yang bermacam-macam) 
Seperti daun beringin yang melambangkan pengayoman, rumput alang-alang dengan harapan agar terbebas dari segala halangan.


SIRAMAN
Acara siraman yang dilakukan sebelum upacara pernikahan ini bertujuan untuk membersihkan jiwa dan raga. Persiapan siraman yaitu air yang merupakan campuran dari bunga setaman yang disebut Banyu Perwitosari yang jika memungkinkan dapat dicampur dengan 7 sumber mata air yang melambangkan sumber kehidupan. Sebelum siraman dilakukan, Duto Saroyo, yaitu orang yang dikirim oleh pihak keluarga pengantin putri untuk membawa sebagian Banyu Perwitosari ini ke rumah calon pengantin pria, untuk dipakai siraman calon pengantin putra.
Rangkaian upacara siraman :
1.Siraman diawali dengan kedua orang tua beserta pinisepuh, yang diharapkan nantinya bisa dijadikan panutan bagi calon mempelai dan diakhiri dengan Pemaes. Biasanya berjumlah tujuh orang, kata tujuh sendiri berasal dari kata Pitu atau pitulungan dari bahasa jawa yang artinya penolong.
2. Pecah Kendi, sebagai tanda sudah pecah pamor. Artinya putrinya sudah siap untuk menikah. Pecahan kendi ini disebut juga dengan kreweng, yang digunakan sebagai alat jual nantinya diacara dodol dawet.
3. Potong Rikmo, acara memotong sedikit rambut calon pengantin putri lalu ditanam dihalaman rumah.
4. Gendhongan, kedua orang tua calon mempelai putri menggendong secara simbolis yang melambangkan sudah mengentaskan putri mereka.
5. Dodol Dawet, kedua orang tua mempelai putri jualan dawet, yang mempunyai makna memberi contoh bagaimana nantinya mencari nafkah sebagai suami istri. Uniknya, orang yang membeli dawet ini menggunakan kreweng atau pecahan kendi tadi dan bukan menggunakan uang.
6. Tumpengan, acara tumpengan disini menggunakan Tumpeng Robyong dimana kedua orang tua mempelai putri melakukan Dulangan Pungkasan atau suapan yang terakhir kepada putrinya. Lalu dilanjutkan dengan acara ramah tamah beserta tamu, yang menandakan diakhirinya upacara siraman.






MIDODARENI
Acara midodaren dilakukan sesudah siraman, dalam acara ini ada acara nyantrik untuk memastikan calon pengantin laki-laki akan hadir dalam akad nikah dan sebagai bukti bahwa keluarga calon pengantin perempuan benar-benar siap melakukan prosesi pernikahan di hari berikutnya.
Inti dari prosesi midodareni ini adalah, srah-srahan berupa hantaran dari keluarga pengantin putra ke pengantin putri, perkenalan antara kedua keluarga besar dan nasehat dari orang tua pengantin putri kepada calon menantu yang biasa disebut Sabdo Tomo. Dilanjutkan dengan rangkaian penyerahan Kancing Gelung atau busana untuk pengantin putra yang akan digunakan keesokan harinya dan angsul-angsul atau buah tangan dari keluarga mempelai putri, kepada keluarga calon mempelai putra.




AKAD NIKAH
Peristiwa penting dalam hajatan mantu adalah ijab qobul dimana sepasang calon pengantin bersumpah di hadapan naib yang disaksikan wali, pinisepuh dan orang tua kedua belah pihak serta beberapa tamu undangan.


PANGGIH ATAU TEMU MANTEN
1. Pasrah Tinampi, penyerahan pengantin pria kepada keluarga mempelai wanita.
2. Pasrah Pisang Sanggan, yang artinya dari Pisang mengandung arti “jenis buah-buahan” dan sanggan yang berarti “segala hal untuk menyangga”. Sanggan pada umumnya dikenal dengan tebusan.
3. Tukar Kembang Mayang
4. Balangan Gantal, balangan berarti ‘melempar’, sedangkan gantal berarti ‘daun sirih yang sudah diikat dengan benang’. Suruh yang diikat dengan benang sebagai lambang perjodohan dan telah diikat dengan tali suci.
5. Wijidadi, mempelai laki-laki menginjak telur ayam hingga pecah dengan kaki kanan, kemudian pengantin perempuan akan membasuh kaki sang suami dengan air bunga. Proses ini melambangkan seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab terhadap keluarganya dan istri yang taat melayani suaminya.
6. Junjung Derajat, dalam prosesi ini Pengantin pria mengangkat tubuh pengantin putri dengan maksud men”junjung derajat” atau mengangkat derajat istrinya sehingga posisinya sama dengan suami.
7. Unjukan Tirto Wening, orang tua mempelai putri saling bergantian memberikan Tirto Wening kepada kedua mempelai sebagai ucapan selamat datang dan diterimanya pengantin pria menjadi salah satu anggota keluarga.
8. Sinduran, di dalam ritual ini ayah pengantin perempuan menuntun pasangan pengantin ke kursi pelaminan, ibu pengantin perempuan menyampirkan kain sindur sebagai tanda bahwa sang ayah menunjukkan contoh yang baik dan sang ibu memberikan dukungan moral.
9. Pangkon, di dalam ritual ini pasangan pengantin duduk di pangkuan ayah pengantin perempuan, dan sang ayah akan berkata bahwa berat mereka sama, berarti tanda kasih sayang orang tua terhadap anak dan menantu sama besarnya, tidak membeda-bedakan.
10. Tanem Jero, ayah pengantin perempuan mendudukkan pasangan pengantin di kursi pengantin sebagai tanda merestui pernikahan mereka dan memberikan berkat.
11. Kacar Kucur atau Tampa Kaya, sebuah tahap dimana pengantin pria memberikan ‘lambang harta’ dengan cara mengucurkan beras kuning pada pangkuan pengantin wanita yang dibawahnya dialasi dengan kain. Tampa kaya mempunyai makna simbolik bahwa seorang pria bertanggung jawab untuk memberi nafkah kepada istrinya.
12. Dahar Kalimah, kedua pengantin saling menyuapi nasi satu sama lain. Yang melambangkan akan hidup bersama dalam susah maupun senang.
13. Jemput Besan, orang tua pengantin perempuan menjemput orang tua pengantin pria di depan rumah untuk berjalan bersama menuju Pelaminan. Kedua ibu berjalan di muka, kedua ayah di belakang. Melambangkan kerukunan antar keluarga kedua mempelai.
14. Sungkeman, mempunyai makna simbolik yaitu tanda bakti anak kepada orang tua yang telah membesarkannya hingga dewasa, permohonan anak kepada orang tua supaya diampuni kesalahannya dan memohon doa restu supaya dalam membina bahtera rumah tangga dapat bahagia dan sejahtera. Pengantin pria melepaskan keris yang merupakan lambang kekuatan yang dipakainya ketika sungkeman, hal ini mempunyai makna simbolik penghormatan kepada orang tua., serta sebesar apapun pangkat atau kekuatan yang dimiliki oleh anak, maka dihadapan orangtuanya tidak boleh ditampakkan.



























RESEPSI
Setelah semua upacara adat selesai dilakukan, saatnya acara Resepsi Pernikahan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Demi kesempurnaan blog ini mohon komentar dan kritik atau saran. Thanks